Profil Dr. Risky Dwi Rahayu: Dokter Timnas Wanita Indonesia Siap Sedia 24 Jam!

Di belakang penampilan gemilang para pemain tersebut Timnas Wanita Indonesia Ada beberapa tokoh yang mungkin kurang terlihat namun kontribusinya tidak kalah berarti. Salah satu di antaranya adalah tim medis yang selalu siap membantu pasukan Garuda Pertiwi sejak sesi latihan, pertandingan persahabatan hingga kompetisi bertaraf internasional.

Satu nama yang berada dalam kelompok penting tersebut ialah Dr. Risky Dwi Rahayu. Dia merupakan seorang ahli medis khusus dalam bidang kedokteran olahraga dan saat ini menjadi salah satu tenaga profesional utama pada tim medis Tim Nasional Wanita Indonesia.

Sebagai dokter tim nasional, dr. Risky tidak hanya menjamin bahwa semua pemain senantiasa dalam keadaan bugar, tetapi juga berperan sebagai garis depan ketika cedera muncul secara tiba-tiba. Asli dari Jember, wanita ini telah konsisten menyertai skuad Garuda Pertiwi selama dua tahun terakhir, baik pada sesi pelatihan intensif maupun pada pertandingan resmi.

Fungsinya sangat penting. Antara kesibukan menjalani sesi latihan dan bertarung di lapangan bersama Tim Nasional Wanita Indonesia, ancaman cidera senantiasa ada. Disinilah peranan dr. Risky beserta regu medis yang lain menjadi garda depan dalam upaya menjamin keamanan serta kesiapan setiap atlet.

Kepada gudangmovies21BOLANITA , dokter Risky menyebut bahwa pekerjaannya yang pertama kali untuk Tim Nasional Wanita Indonesia dimulai pada bulan Februari 2023. Di saat tersebut, beliau baru saja menyelesaikan pendidikannya dalam Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Saya mendapat telepon dari pihak PSSI. Saat itu, mereka berupaya menemukan dokter tim ekstra bagi Tim Nasional Sepak Bola Putri. Lalu saya apply , deh. Kamu masukkan CV-mu. Nanti mereka minta kamu datang untuk wawancara dengan kepala medis. Lalu, setelah itu langsung ditempatkan untuk TC pertamamu," ungkap Dr. Risky.

Walaupun pada awalnya hanya familiar dengan dunia sepak bola wanita dari sudut pandang kesehatan, dr. Risky secara langsung tune in dengan jadwal kerja yang sibuk. Terlebih lagi, dunia olahraga telah menjadi bagian penting dalam kehidupannya selama bertahun-tahun.

Saya pun senang berolahraga. Oleh sebab itu, saat itu tampaknya pilihan yang tepat untuk khususkan diri di bidang tersebut, mengingat saya menyukainya. Selanjutnya, permintaannya cukup tinggi juga. Maka dari itu, saya memilih untuk terjun ke dalamnya. Alhamdulillah lulus,” ucap dr. Risky.

Keputusan beliau untuk mengkhususkan diri dalam bidang kedokteran olahraga pun tidak muncul begitu saja. Saat itu, Dr. Risky pernah berjumpa dengan seorang dokter spesialis yang memberikan banyak masukan. insight soal kebutuhannya di bidang ini.

“Setelah dipikir-pikir, ternyata memang kebutuhannya masih banyak. Jumlahnya juga masih sedikit,” ujarnya.

Di Timnas Wanita Indonesia sendiri, tim medis yang mendampingi pemain cukup lengkap. Ada dua dokter, empat fisioterapis, empat masseur , dan satu ahli gizi. Tapi, tak semua selalu berangkat bersama.

Pemberian tugasnya umumnya disesuaikan dengan keperluan tim di saat tersebut. Maka dari itu, bersifat menyesuaikan. request dari sekretaris tim kepada medical head . Baru nanti kita deploy "Lah, di tugaskan untuk latihan bersama itu," jelas Dr. Risky.

ACL Jadi Tantangan Terberat

Menurut Dr. Risky, peran tim medis tidak terbatas pada aspek pengobatan saja. Mereka memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa para pemain selalu berada dalam kondisi optimal mulai dari awal hingga proses rehabilitasi pasca cidera. Terlebih lagi, cidera yang dialami oleh atlet sepak bola wanita bisa sangat serius dan harus ditangani dengan hati-hati.

Satu hal yang mendapat perhatian adalah cedera ACL yang dihadapi oleh beberapa atlet, termasuk Jenna Almira paling baru. Doktor Risky menyatakan bahwa penyembuhan dari jenis luka seperti itu membutuhkan waktu cukup panjang. Proses tersebut melibatkan serangkaian tindakan medis yang wajib ditempuh secara tekun, mulai dari berkonsultasi dengan ahli bedah orthopedic (SPOT), hingga mengikuti program rehabiliasi berjenjang.

Yang terberat tentu saja adalah cedera ligamen anterior cruciate (ACL). Saat itu terjadi. concussion, sudah observasi, aman untuk kepalanya, tapi ternyata ada perforasi membran timpani. Jadi gendang telinganya pecah. Saya rasa, itu yang paling berat karena membutuhkan observasi panjang,” ucap dr. Risky.

Sekarang, selain sibuk di Timnas Wanita Indonesia, dr. Risky juga praktik di dua tempat: RS Muhammadiyah Taman Puring dan Klinik Utama Royal Sport Performance Centre.

Tak cuma itu, ia juga aktif mengajar di Fakultas Kedokteran UI, tepatnya di Program Studi Ilmu Kedokteran Olahraga. Bahkan, dr. Risky masih sempat pegang tanggung jawab di KONI DKI Jakarta dan Asiana Soccer School.

Punya tim medis yang solid seperti dr. Risky dan kolega jelas jadi modal penting buat Timnas Wanita Indonesia terus melaju. Di balik selebrasi gol atau kemenangan tim, ada peran tim medis yang jarang terlihat di depan layar, namun amat vital untuk menjaga kebugaran para pemain.

Oleh karena itu, setiap kali melihat tim sepak bola wanita Garuda Pertiwi bermain dengan antusiasme, jangan lupakan Dr. Risky yang senantiasa standby di samping lapangan. Tugasnya tak melibatkan skor gol, namun lebih kepada memastikan atlet-atlet tetap bugar dan siap dalam pertandingan tersebut.

Terima kasih, dr. Risky!

Comments

Popular posts from this blog

Paradise Islands Offer Citizenship for Less Than £36,000

Australian Grand Prix Fences Go Black for Clever Reason

Bill Passes Just Hours Before Deadline, Averts Shutdown and Defeats Filibuster